“Carilah Yang Kristus Pikirkan Untuk Kamu Bawa”

“Hari ini Yesus menekankan satu perintah yang cocok dengan kita para pelayan pastoral pada saat makan bersama. Dalam Injil tadi Dia bilang, kamu hamba-hamba tidak lebih tinggi dari Tuhan, tidak lebih hebat  dari Tuhan. Kamu pelayan-pelayan tidak lebih hebat dari Tuhanmu. Ingat itu! Kita semua diutus oleh Kristus pada saat  yang khusus ini. Karena itu dalam Gereja katolik, pelantikan-pelatikan untuk tugas istimewah dalam evangelisasi dilaksanakan pada saat makan, yaitu Perayaan Ekaristi. Mengapa demikian? Karena saat makan itu adalah saat yang paling menyenangkan. Kristus menggunakan saat yang paling istimewah di mana orang-orang sebenarnya sudah merasa senang, sudah kenyang, dia tidak lagi mau berperang tapi mau menikmati hidupnya. Saat itulah Yesus katakan, Kamu hamba-hamba, kamu pelayan-pelayan, saya utus untuk melakukan pekerjaan. Jangan mencari apa yang kamu pikirkan, tetapi cari apa yang saya pikirkan, carilah yang Kristus pikirkan untuk kamu bawa.” Demikian dikatakan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang dalam kotbahnya pada perayaan Misa Pelantikan para pastor paroki dan perangkat pendukung pelayanan pastoral Keuskupan Agung Kupang masa bakti Mei 2016 – Mei 2019, yang dilaksanakan pada Kamis, 21 April 2016 di Gereja Paroki Kristus Raja Katedral Kupang.
 
Lebih lanjut dalam kotbahnya, bapa uskup mengajak semua yang akan dilantik untuk dalam kesadaran diri sebagai hamba-hamba yang diutus oleh Kristus sendiri, selalu hadir sebagai pribadi-pribadi yang rendah hati dalam pelayanan. Kerendahan hati ini ditunjukkan pula lewat keterbukaan hati kepada kehendak Allah yang memilih dan mengutus mereka untuk menjadi pelayan pastoral. “Sebagai para pelayan yang rendah hati, para imam dan petugas pastoral lainnya perlu selalu meminta petunjuk dan bimbingan dari Tuhan Yesus yang adalah Guru kita yang melayani, dan itulah doa. Anda tidak akan mungkin melakukan pekerjaan dengan baik, kalau anda sebagai pemimpin yang diutus itu tidak berdoa.”
 
Secara khusus bagi para imam, Mgr. Petrus meminta agara tugas pelayanan itu pertama-tama ditunjukkan dengan kesediaannya untuk setia merayakan perayaan Ekaristi sebagai bentuk nyata dari upaya menghantar umat agar bisa mencapai kekudusan. “Ekaristi adalah saat di mana kita memberikan kehadiran, memberikan pelayanan untuk membuka pintu dunia ini agar mereka bisa bresahabat dengan Dia yang suka mendekati mereka, yaitu Tuhan sendiri. Tujuannya adalah, supaya umat bisa melihat dengan jelas kehadiran Tuhan yang mengasihi, dan mengalami karunia Allah yang berbelaskasih.”
 
Di sisi lain, Mgr. Petrus juga mengingatkan para imam untuk selalu membangun kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya membangun umat dan masyarakat agar mereka bisa mengalami suatu keterbukaan untuk mendengarkan seruan Tuhan, keterbukaan untuk mengalami peneguhan dan berkat dari Tuhan  yang pada gilirannya akan memampukan umat dan masyarakat yang dilayani untuk tetap merasa kuat dan tidak gampang berputus asa pada saat mereka mengalami kesulitan di dalam dunia ini.
 
Menutup kotbahnya, Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang mengajak umat untuk juga selalu mendoakan para imam dan pelayan pastoral dalam menjalankan karya pelayanannya, sehingga kehadiran para imam dan petugas pastoral sungguh mengungkapkan secara nyata dan kelihatan kasih dari Yesus Kristus.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Beato Innosensius XI, Paus

Benedetto Odescalchi -demikian nama Innosensius- lahir di Como, Italia pada tanggal 19 Mei 1611. Masa pontifikatnya (1676-1689) ditandai dengan suatu perjuangan panjang lagi berat melawan campur tangan Raja Louis XIV dari Prancis (1643-1715) dalam urusan-urusan Gereja.

Renungan Harian

Mari Menjadi Saudara Yang Baik Dan Benar

Rabu, 15 Agustus 2018 - Hari Biasa
Yeh. 9:1-7; 10:18-22; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:15-20.
BcO Za. 10:3-11:3.
warna liturgi Hijau

Saling mengoreksi seringkali menjadi hal yang tidak mudah. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidakpedulian, atau juga karena ada keengganan satu terhadap yang sama lain .